Thursday, September 27, 2012

Suatu hari: kaum Jetset Dubai


Burj Khalifa di malam hari
Jadiii...di Dubai itu banyak banget orang kaya. Mobil BMW, Porsche, Chevrolet itu bisa banyak didapatin di jalan. Demikian juga Jaguar, Aston Martin, Hammer, Land Cruiser…semuanya ada. Kayaknya mobil jelek nyaris ngga ada. Seandainya ada, ngga mungkin karatan kayak bemo ato angkot di Jakarta dan Jogja (maaf…ini sekedar ungkapan fakta tanpa maksud apa-apa, lho..).

Rumahnya pun besar-besar. Rumah di daerah Puri dan Pondok Indah, Jakarta yang menurut kita sudah mewah banget,  ternyata terhitung banyak yang punya di kota ini. Bahkan masih ada yang lebih elit, yang rumahnya kayak istana negara! Golongan ini tinggal di bagian Dubai yang dekat dengan daerah Palm Jumeirah resort, deket salah satu bangunan megah bernama Burj al-Arab. Burj al-Arab adalah hotel bintang 7 (selama ini kamu cuma tau hotel bintang *****, khan…) di Dubai yang sempat menjadi icon kota ini sebelum munculnya  Burj Khalifa, di daerah downtown Dubai.
Burj Khalifa di siang hari

Nahh..orang kaya yang aku maksud memiliki rumah-rumah ini rata-rata adalah keluarganya raja. Saking luasnya arena rumahnya, bisa kayaknya buat jadi lapangan upacara...Gerbangnya gede banget dan ada penjaganya. Rata-rata tentunya pintu gerbang berdiri kokoh dan tertutup rapat. Pas nengok ke salah satu 'istana' dengan pintu gerbang yang terbuka, ternyata ada jalan masuk yang panjang -- kurang lebih sampe 50 meter ke dalam gitu, baru deh sampe ke bangunannya yang segede-gede istana (seperti di film Princess Diary). Lalu, ada juga orang kaya yang ‘ekstrim’. Entah karena dalam rumahnya udah ngga ada area parkir ato gimana, akhirnya perahu yacht nya ada yang ditaruh di pinggir jalan depan rumah, hadoohhh….bisa menimbulkan kecemburuan sosial itu….(*__*)

tempat kaum jetset menyandarkan kapalnya di Abu Dhabi
Memang semua itu terlihat sagatlah ekstrim…apalagi klo dibandingkan dengan rumah-rumah para pekerja Iran yang tinggal di ruko-ruko, atau tenaga kerja Nepal, India, dan Asia yang tinggal di apartemen kecil… Setidaknya gaya hidup et set itu membuktikan 1 hal: bahwa salah satu sifat alamiah manusia adalah tidak mengenal kata “puas”….semua orang pengen jadi raja. Hmm…seandainya saja para orang kaya Dubai ini sebijak pedagang keturunan china dalam mengelola uang.
Lepas dari itu, karena mereka pun mengakui bahwa mereka bukanlah Negara demokrasi, kejomplangan kelas social itu seakan sah untuk menunjukkan “siapa tuan rumah di Negara ini”, dan itu masuk akal. Jadi, apakah masih berpikir bahwa demokrasi adalah system terbaik…??






Suatu hari: Zimbabwe, Angola

pedagang koran di perempatan lalu lintas Harare

Pertama kali melihat suasana di Afrika di pagi hari... Menyaksikannya bagiku, meskipun hanya sekilas pandang dari dalam mobil yang melaju, seperti menonton langsung acara “Inside Africa”.
Kayaknya kita memang ngga bisa menyamakan semua negara Afrika dalam kondisi yang sama..seperti hal nya klo kita pergi ke Indonesia, Singapura, dan Malaysia.. Meskipun ketiga negara tersebut berdekatan, tetap saja berbeda dari segi perkembangan pembangunan dan tehnologi. Demikian juga yang aku lihat hari ini… Meskipun aku sering mendengar Afrika yang terbelakang dan kelaparan, tapi nampaknya tidak disini…di Harare.

Sebagai ibukota dari Zimbabwe, menurutku Harare termasuk lumayan maju. Meskipun penduduknya masih jarang -- terbukti dari masih banyaknya tanah kosong dan luasnya savana di kanan-kiri jalan-- tetapi rata-rata semua fasilitas sudah tersedia. Ada pom bensin, pasar, gallery kota. Rata-rata penduduk pun memiliki rumah yang besar dengan halaman luas. Mobil-mobilnya pun bagus-bagus -- buatan Eropa. Gedung-gedung sekolah dan gereja berukuran besar dan tinggi. Salah satu yang kulihat saat perjalanan keluar hotel menuju bandara adalah Elizabeth Capel.

Pagi ini, di sepanjang jalan banyak anak-anak berseragam rapi berangkat sekolah. Menurutku bahkan baju seragam mereka jauh lebih keren dibandingkan yang di Indonesia. Kalau di negara kita seragam hanya berwarna merah-putih (dan beberapa sekolah swasta punya motif lain). Sedangkan yang kusaksikan disini anak-anak menggunakan seragam dengan motif cerah – memang lebih mirip seragam-seragam di sekolah Khatolik, sih..
Aku cenderung ngga bisa bedain yang mana anak laki-laki, yang mana anak perempuan, kecuali dari rok dan celana yang mereka pakai. Wajah mereka terlihat mirip dan semuanya berambut pendek dan ikal (mungkin semi kribo). Ternyata di Afrika perempuan biasa berpotongan rambut pendek hampir plontos, layaknya laki-laki.

salah satu papan reklame Luanda
Wanita-wanita dewasa yang terlihat di jalan mengingatkan aku pada novel “ The No.1 Ladies' Detective Agency” -- tentang detektif wanita asal Afrika yang tinggal di Bostwana, bernama Precious Ramotswe yang cerdas dan sangat mencintai keaslian wujud orang-orang Afrika. Dalam novel itu Mma Ramotswe digambarkan sebagai wanita yang cantik bagi kalangan Afrika -- berbadan besar dan tambun, dan suka mengenakan baju longgar, dengan corak warna-warni mencolok yang didominasi warna orange dan hijau-- dan wanita seperti dia lah yang kusaksikan di pinggir-pinggir jalan kota ini.

Aku hanya sebentar di Harare. Perjalanan akhirnya dilanjutkan ke Luanda, Angola. Membutuhkan waktu 2 jam perjalanan pesawat kesana.

jalanan macet di siang hari
Bicara tentang Luanda, inilah kota di Afrika Barat yang sudah tersentuh oleh budaya barat -- pembangunan disini nampak lebih terlihat dibandingkan di Harare. Dari segi pembangunan, mungkin bisa diumpamakan seperti Jakarta era 80an-90an -- ada fly over, under pass, papan reklame dimana-mana, dan pejalan kaki yang menyebrang sembarangan. Mobil-mobil berjejalan di jalan, menyebabkan kemacetan di siang hari yang terik dengan suhu 32 derajad celcius. Jika melihat sekeliling kota, kondisinya agak mirip dengan film "Hotel Rwanda" (semoga aku tidak salah menggambarkannya, tapi kurang lebih sperti itu)

Herannya, ada banyak mobil yang diparkir di pinggir jalan dalam kondisi tidak beraturan. Ngga ada garis area parkir -- dan aku meragukan ada tukang parkir. Membuatku berpikir bagaimana jika salah seorang yang punya mobil itu mau keluar, tetapi mobilnya terhalang mobil orang lain... Karena kebanyakan penduduk menggunakan mobil Eropa, setir mobil berada di bagian kiri. Sempat membuatku agak bingung, karena mobil disana pun berjalan di jalur kanan (kalo di Indonesia kan kiri,ya..).

Nahh..sebagai kota yang sudah tersentuh budaya barat, pemuda-pemudi disini sudah ‘tersentuh’ tata busana ala barat juga...mulai dari pakain dan bentuk tubuh. Baju ketat, jeans, kaos, high-heels, topi kupluk, etc. Kamu dapat melihat orang bergaya seperti Craig David dan Beyonce dimana-mana. But believe me, Beyonce yang terbaik dari semuanya...

Sayangnya aku ngga lama di Luanda -- jadi ngga sempat belajar banyak tentang budayanya. Yang aku tau mereka baru mulai membangun pada 1992. Sebelumnya mereka sibuk dengan perang saudara. Oleh karena itulah saat ini masih masa-masa membangun bagi mereka, sehingga mereka ngga menginginkan adanya konflik yang mengganggu stabilitas keamanan di negara mereka. Meskipun begitu, aku mendengar masih ada budaya-budaya yang bersifat destructive yang masih diplihara oleh penduduk setempat, antara lain mengutamakan memiliki mobil mewah ketimbang rumah yang mapan, dan mabuk-mabukan di malam hari.