Friday, June 29, 2012

Everest: hari 25


salah satu sudut Garden of Dream

Aku ngga menyangka bahwa di tengah hingar bingar kota Khatmandu yang kini dilanda aksi demo menuntut dibentuknya konstitusi yang sah, ternyata ada oase yang menyegarkan. Oase itu adalah sebuah taman yang dibangun oleh Kaiser Sumsher Rana di awal tahun 1920. Dan entah sejak kapan diberi nama, tetapi taman ini dikenal dengan sebutan "Garden of Dream".


Garden of Dream tersembunyi di balik tembok bata yang cukup tinggi. Tetapi begitu masuk, kau akan kaget karena akan mengira kau sedang melihat pemandangan di salah satu tempat di negara Barat. Memang, taman ini sangat unik, karena dibangun dengan gaya eropa di tengah kota Khatmandu yang sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh budaya hindu dan India. Layaknya taman-taman berkelas gaya barat, taman ini dihiasi paviliun, air mancur, patung-patung hewan, dan rangkaian tanaman rambat dengan bunga aneka warna yang membentuk lorong-lorong. Menurut cerita, Kaiser sengaja membangun 6 paviliun yang berbeda, sesuai dengan 6 musim yang datang ke Khatmandu setiap tahunnya. Hampir di setiap sudut taman terdapat bangku untuk duduk santai atau tidur-tiduran. Semuanya dibentuk dengan desain yang tertata dengan indah. Jika kurang, wisatawan pun dapat menyewa matras untuk berbaring di halaman rumput.
para koki, Candle Baba yg sebelah kiri

Dari semua pengunjung yang ada, kebanyakan pengunjuknya adalah turis barat ketimbang warga khatmandu. Padahal karcis masuknya terbilang murah, lho...hanya 160 rupee per orang (dan kamu bisa berada disana seharian...). Ingin rasanya mengajak teman-teman datang menikmati taman ini. Entah apa sebenarnya yang menginspirasi Kaiser, tetapi Menurutku, ini adalah taman pribadi terindah sepanjang masa...aku belum pernah menemukan yang lebih indah dari ini..(mungkin Kaiser adalah orang pecinta seni)

Perlu diketahui, bahwa Garden of Dream yang hari ini ada tidak sama persis dengan taman yang dikonsep Kiser. Sepeninggal Kaiser, taman ini terbengkalai selama puluhan tahun. Aku melihat foto taman ini sebelum direnovasi...sudah mirip hutan...! Tanaman liar dimana-mana, menutupi patung-patung dan merambati kolam-kolam kecil. garden of Dream akhirnya  dibangun ulang menyerupai aslinya pada tahun 2000 - 2007 dengan bantuan dana dari pemerintah Austria (walaupun sebenarnya, hanya setengah dari taman ini saja yang berhasil direnovasi). Kini pengelolaan Garden of Dream berada di tangan kementrian pendidikan.


ini enak banget...tapi lupa namanya:p
Salah satu yang bari dari konsep Garden of Dream adalah terdapat restaurant dan cafe yang sangat cozy. Menu makanannya pun yang sebagian besar menu eropa rasanya sangat enak. Kami berkenalan dengan 2 koki restaurant tersebut. Aku lupa nama koki yang muda, namun koki yang lebih tua biasa dipanggil "candle baba", karena selain bekerja sebagai koki di siang hari, ia membuat lilin handmade di malam hari dan menjualnya dalam jumlah kecil ke beberapa kenalan. Penghasilannya dari membuat lilin tidaklah banyak, namun hal itu menunjukkan bahwa profesi sebagai koki di restaurant mahal pun dinilai tidak cukup untuk menyokong seluuh kebutuhan keluarganya. Sebagai salam perkenalan, candle baba memberikan masing-masing kami karrya lilinnya yang berbentuk mawar. Terus-terang saja, aku tersentuh dengan ketulusannya...dan memilih betah untuk berlama-lama di taman ini sambil menikmati hidangan, mulai dari salad di menu pembuka hingga yogurt buah sebagai menu penutup. Sesekali aku menengok ke luar jendela, dan melihat bangku-bangku taman dipenuhi pasangan yang sedang pacaran, nostalgia, atau hanya membaca buku dan bermalas-malasan. Aku rasa pemilihan nama untuk taman ini sungguh tepat... Taman ini menjadi tempat bermimpi dan berkhayal di tengah kenyataan situasi Nepal yang saat ini jauh dari harapan warga negaranya....

Everest: hari 24

Aku suka minum teh. Kebiasaan itu baru aku mulai sejak liputan di Dubai tahun lalu. Di tempat kami menginap selalu disediakan camomile tea. Kalo minum teh itu sebelum tidur, rasanya otak yang penat jadi relax dan nyaman untuk dibawa tidur...entah itu benar atau hanya sugesti, yang jelas sejak saat itu aku lebih banyak minum teh.

Tapi aku bukanlah seorang maniak teh. Selain camomile, aku hanya sesekali minum Earl Grey atau Mint. Tetapi selama trekking di himalaya, kembali ritme minum teh ku meningkat. setiap kali berhenti di satu restaurant, yang pertama kali kulakukan adalah: memesan teh. Selain untuk membunuh rasa dingin, teh juga memberikan rasa relax di otot-otot yang lelah dan pikiranku yang terkadang tegang memikirkan setiap paket berita yang perlu dibuat sepanjang jalan....

Pesananku akan berputar di antara hot lemon tea, apple, tea, black tea, dan ginger tea. Tapi sebenarnya, ada lebih banyak jenis teh yang komersil nepal. Dan hari ini, aku baru tau kalau Nepal ternyata terkenal dengan hasil teh nya, saat diajak singgah di Sagarmatha tea shop. Banyak sekali jenis teh disana, sampai tidak bisa kusebutkan 1 per 1.  Tapi yang sempat kuingat, ada upper asam tea, sencha tea, bancha tea, green tea, lemon grass tea, jasmine tea, assam gold tea, basil tea, cinnamon tea, rose tea.....sampe teh paling mahal, silver tips tea. Woww...aku baru tau kalau jenis teh ada sebanyak itu..! Selama ini aku hanya melihat beberapa jenis teh yang populer dijual di supermarket saja, ternyatajenisnya lebih banyak dari yang kukira.

3 teh favoritku: mint tea, lemon grass, rharadenron. Ngga ada camomile..:(
Teh yang dijual di Sagarmatha tea shop masih pure...berwujud racikan daun teh kering yang tinggal diseduh air panas. Kami mencoba beberapa jenis teh...ternyata ngga semuanya sesuai seleraku siyy..XO ...terutama untuk silver tips. Teh ini dinyatakan sebagai teh termahal, karena tumbuh justru di zona yang sulit dijangkau, di ketinggian 5000 - 8000 kaki dpl. Bagiku, mungkin silver tips bisa diumpamakan seperti kopi luwak...dia termahal, tetapi bukan yang terenak.

Everest: hari 23

Bhaktapur, kota lumbung padi
Jika kita menyukai bangunan tua, indah, dan unik, maka Bhaktapur merupakan tempat yang perlu kita kunjungi. Dan ide untuk mengunjungi Bhaktapur awalnya dicetuskan oleh mba Ami -- salah satu anghota romnongan perjalanan kami. Karena lagi punya waktu luang dan masih harus menunggu Anton dan rombongan tiba di Khatmandu, aku menyetujui ide tersebut. Jadi setelah menghabiskan sarapan pagi, kami langsung menyewa taxi menuju Bhaktapur.

Bhaktapur ternyata cukup jauh juga. Letak kota tua ini adalah 12 km sebelah timur Khatmandu. Dulu, Bhaktapur adalah kota tempat tinggal raja dan keluarganya. Ngga heran klo di Bhaktapur ada banyak kuil pemujaan -- yang bukan hanya menggambarkan Nepal memiliki penduduk yang religius, tetapi juga menjadi 'tugu peringatan' bagi rakyat untuk selalu mengingat raja yang menjadi pengagas berdirinya kuil tersebut. Untuk masuk ke Bhaktapur ngga gratis lho...kecuali bagi penduduk asli Nepal. Untuk masuk ke kompleks kota tua Bhaktapur, turis asing perlu membayar US$10 (lumayanan,ya...). Padahal klo warga Asia Selatan atau China, cukup membayar 50 rupee saja...! Jauh sekali bedanya..:'(

guide kami membubuhkan tika pada mba Ami
Menurut guide kami, Bhaktapur berasal dari bahasa Nepal kuno yang berarti "tempat padi". Yaa...sebenarnya Bhaktapur adalah kota persediaan makanan, namun akhirnya dipilih menjadi tempat raja dan keluarganya tinggal. Sampai hari ini, Bhaktapur masih menjadi tempat penggilingan padi yang dikerjakan oleh penduduk lokal yang telah tinggal disana turun temurun. Jadi sebelum masuk gerbang kompleks kota tua, aku menemukan sekelompok warga yang sedang menggiling padi. Namun karena banyaknya kuil yang didirikan para raja, Bhaktapur lebih dikenal sebagai kota tempat pemujaan.

Saat melewati gerbang utama untuk masuk ke kompleks kota, aku seakan-akan melewati gerbang waktu yang membawaku ke masa lampau...kota itu benar-benar kuno...! Mata ini langsung disajikan pemandangan kuil, istana, dan patung-patung dewa yang menjulang. Dari sekian banyak bangunan, kami akhirnya memilih untuk masuk ke museum terlebih dahulu.

pemandangan kota tua Bhaktapur
Di museum, ada banyak sekali gambar dewa...entah dewa apa saja. Yang aku ingat, penduduk Khatmandu yang rata-rata adalah pemeluk ajaran hindu, mengagung-agungkan 3 dewa besar: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Setiap dewa itu memiliki rupa lain yang memiliki nama yang berbeda lagi; ada rupa baik, ada rupa jahat. Belum lagi ditambah istri-istri dewa tersebut akan menambah jajaran dewa yang harus disembah. Menurut cerita, bahkan Krisna (raja dalam mitologi adalah inkarnasi Wisnu) memiliki lebih dari 16.000 istri...! Yang agak nyeleneh, bahkan ada gambar dewa sedang bercinta... Dan meskipun bagi kita penggambaran itu aneh sekali (bagaimana kalo dilihat anak-anak!???), tetapi hal tersebut bukanlah hal yang tabu bagi masyarakat Khatmandu. Bahkan di beberapa kuil mereka, terdapat ukiran dan relief serupa, baik manusia maupun hewan. Mungkin saja mereka melihat hal tersebut sebagai salah satu proses yang lazim terjadi di alam, layaknya kehidupan dan kematian.

patung singa di dekat gerbang
Keluar dari museum, barisan kuil, istana kuno dan gang sempit yang meliuk-liuk kembali terlihat. Kini kami menuju Golden Gate. Golden Gate adalah pintu masuk utama ke halaman dan Istana 55 jendela. Disebut Golden Gate, karena memang warna gapura ini bagaikan emas -- dibangun oleh Raja Ranjit Malla dan merupakan salah satu ornamen yang paling indah dan kaya dengan ukiran. Di sisi penyangganya, terukir wajah Dewi Kali dan Garuda, burung tunggangan Dewa Wisnu.

atap-atap bangunan di Bhaktapur yg khas
Istana 55 jendela adalah tempat tinggal keluarga raja di masa lampau, dibangun pada abad ketujuh belas oleh Raja Bhupatindra Malla. Lagi-lagi, menurut guide yang mengantar kami, angka 5 dipercaya sebagai angka keberuntungan, makanya angka 5 dan kelipatannya banyak dipakai di bangunan istana dan kuil-kuil yang ada di Bhaktapur.  Raja tidak lagi tinggal di sini sejak gempa bumi di tahun 1934 yang merusak kompleks Istana, namun istana kini merupakan tempat menarik untuk wisata budaya di Kathmandu.

Ada banyak sekali kuil, sampai-sampai aku ngga tau kuil yang mana, yang bernama apa. Tetapi hampir setiap kuil memiliki teras, dimana terdapat pasangan patung yang sedang berjongkok, dua gajah, dua singa, dan patung dua orang laki-laki, yaitu patung Jaya Malla dan Fatteh Malla, yang konon kabarnya sepuluh kali lebih kuat daripada orang lain.
belajar membuat kerajinan tanah liat


Jujur saja, mengelilingi Bhaktapur itu melelahkan. Lagipula di kota tuaini terdapat debu dimana-mana, entah dari ampas padi, ataupun kikisan bangunan yang terbuat dari bata merah. Namun setiap bangunan kuno yang tetap berdiri kokoh selama ratusan tahun memang mengundang decak kagum. Sejak menjadi bagian dari warisan budaya dunia yang ditetapkan UNESCO, keaslian dan kekunoan Bhaktapur dilestarikan. Bahkan warga yang tinggal di dalamnya pun hidup dengan cara yang masih tradisional. Tetapi walaupun demikian, internet dan restoran masakan internasional pun sudah merambah kawasan cagar budaya ini. melintasi lapangan, kami menemukan sekelompok pembuat pot tanah liat. Mereka sedang sibuk mencelupkan mulut pot tersebut, lalu menjemurnya di tengah lapangan. Kurva-kurva coklat beraturan, mulus dan halus, berbaris di bawah terik matahari. Agak tertarik, aku meminta seorang kakek pembuat pot tanah liat mengajari saya membuatnya...ternyata susah juga... Akhirnya kami berhasil membuat sebuah asbak tanah liat, meskipun keberhasilan tersebut lebih banyak karena sentuhan tangan si kakek...;)

yang berhasil....si kakek :p
Apakah nilai moral dari cerita panjang perjalananku hari ini? Hmm...hampir tak ada;D Aku rasa aku hanya bersenang-senang sepanjang hari ini... well..hmm, yeah....tapi aku harus salut dengan jiwa para penduduk Bhaktapur yang religius....Hampir di setiap patung dewa, terdapat sesajian ataupun cercahan bubuk merah sisa pemujaan para warga yang datang setiap harinya. terlepas dari kondisi politik dan ekonomi negara mereka yang cukup memprihatinkan, mereka masih memiliki pengharapan yang besar pada dewa-dewa mereka untuk memelihara hidup mereka setiap hari....

Everest: hari 22

Hari ini aku akan meninggalkan EBC. Dan karena kebijakan tim, aku akan turun dengan helikopter. Bagaimana ceritanya?

pernah lihat orang rapat di atas es batu??;)
Kondisi kesehatan ardhesir semakin memburuk. Manajer tim selatan, hendrikus, berpendapat agar ardhesir segera dibawa turun ke khatmandu via helikopter, dan usul itu dipandang baik. Tetapi tersedia 2 seat di helikopter dan Hendrikus merasa tidak dapat meninggalkan tim karena berbagai pertimbangan, sehingga mereka memutuskan aku lah yang mendampingi Ardhesir turun ke Khatmandu

Sebenernya sih senang sekali, tapi ada juga rasa sedihnya. Senang, karena bisa sampai ke Khatmandu dalam waktu singkat, bertemu dengan kasur, bisa mandi, dan merasakan suhu perkotaan yang hangat.


Tetapi, aku rasa tak satu pun bisa dengan mudah melupakan keramahan dan kebaikan hati para sherpa yang bekerjasama dengan
 kami. Mereka murah senyum, humoris, lugu, pekerja keras, tidak mengeluh (atau mungkin mengeluh dalam bahasa mereka sendiri saja...). Intinya, mereka benar-benar patner jalan yang menyenangkan. Imej mereka sangat berbeda dengan orang-orang di jalanan Khatmandu. Rasanya membutuhkan waktu lebih untuk mengenal mereka -- tentang desa-desa mereka, perjuangan mereka, kepercayaan mereka, kesukaan mereka... Membutuhkan lebih banyak lagi malam yang dilalui dengan ngobrol bersama cangkir demi cangkir hot lemon tea.....atau mungkin lebih
helikopter yang membawa aku dan Ardhesir  pulang
banyak alur pegunungan yang ditapaki.... Selain itu, aku juga belum ke banyak tempat. Aku belum ke Kumjung untuk melihat sekolah pertama yang dibangun di pegunungan himalaya, belum juga ke Kalaphatar maupun island peak....hanya mendengar cerita-cerita menarik mengenai tempat-tempat itu.

Mulai besok, tidak akan
ada lagi sapaan, "good morning, didi..." yang disertai dengan segelas dut chiya. Ngga akan lagi menemukan salju ataupun pemandangan Lola dan Nubse yang menjulang.... Tidak akan melihat burung gagak terbang di sekitar tenda...oh, ya...dan tidak ada tenda-tenda....

Semua berubah begitu cepat....dalam waktu 2 setengah jam, pemandangan tenda-tenda dan gunung es berubah menjadi gedung-gedung di pinggir jalan perkotaan...kendaraan dimana-mana. Hening berubah jadi bising, hawa dingin berubah jadi hawa gerah...

kembali ke Khatmandu, penuh debu dan bising
Aku memilih tidak terlarut dengan perubahan itu dan segera mengantar Ardhesir ke CIWEC clinic. Ini adalah klinik yang direkomendasikan oleh pihak asuransi, karna sudah terbiasa menerima pasien-pasien WNA yang sakit atau mengalami kecelakaan selama di Nepal.

Sambil menunggu Ardhesir diperiksa, aku memesan sarapan roti bakar dan teh. Disana aku melihat ada seorang bule (entah warga negara apa) yang mengalami frostbite akut -- di kedua tangan dan kaki, serta di daun telinga dan pucuk hidung. "pastinya dia merasa sangat beruntung masih selamat, dan apa yang dia alami pasti terasa menyakitkan..", aku membathin. Aku juga bertemu dengan para pendaki China yang kemarin sempat naik everest. Seperti yang telah kukatakan, salah satu teman mereka, Mr. Ha, meninggal dunia. Sedangkan 1 lainnya mengalami frostbite di tangan. Mereka ada di klinik itu untuk melihat kondisi teman mereka yang terkena frostbite dan kini tangannya dibalut perban sebesar centong nasi. Syukurnya, 2 pendaki China lainnya dalam keadaan sehat. Mungkin bagian paling menyedihkan bagi mereka adalah jenazah Mr. Ha tidak dapat dibawa turun. Sehingga seorang sherpa hanya membantu memotret jenazahnya dan menyerahkannya pada keluarga Mr. Ha....

Meskipun aku senang sudah tiba di Khatmandu, nampaknya aku harus mulai menyesuaikan diri....

Everest: hari 21

sekolah yang dibangun Edmund Hillary, Kumjung school
Jadi, seperti yang ku sadari (dan kau sadari kini) bahwa mendaki gunung (apalagi gunung es) tidaklah semudah yang kau bayangkan... Maka tentunya kita harus salut dengan keberhasilan pendaki pertama Everest, Edmund Hillary, dan Tenzing Norgey Sherpa.

Di masa pendakian mereka, tahun 1953, tidak ada produk baju hangat untuk pendakian sebaik yang ada sekarang, belum ada sepatu pendakian seperti sekarang, dan mereka memulai start berjalan kaki bukan dari Lukla...melainkan Khatmandu..!!!!

NatGeo mengabadikan pencapaian Edmund H.
Edmund sebenarnya bukan orang Inggris, tetapi Selandia Baru. Dia berangkat ekspedisi bersama Joint Himalayan Committee di bawah bendera Inggris. Saat itu, bukan hanya rute perjalanan menuju everest yang sulit, tetapi juga pengalaman orang-orang terdahulu yang sudah mencoba menaklukkan Everest (dan berakhir gagal) bisa menjadi alasan bagi Edmund untuk pesimis, atau justru lebih merasa tertantang dan waspada. pendaki ternama masa itu, George Malloy dan Andrew Irvine, dinyatakan hilang dalam ekspedisi mereka mencapai puncak Everest.Bahkan Edmund sendiri sebelumnya telah 2 kali mencoba utuk mencapai summit Everest. Kali ini, mereka berangkat dalam jumlah besar, 400 orang -- termasuk sekitar 350 porter, dan sekitar 20 sherpa. dan siapa yang menyangka, ekspedisi mereka akhirnya sukses...Edmunda dan Tenzing mencapai Everest...

Yang menarik adalah, saat aku membaca tulisan Edmund yang tercatat dalam natgeo terbitan tahun 2003, untuk memperingati 50 tahun Everest, Edmund menyatakan bahwa dia tidak menganggap Everest se'menarik' itu, aneh, ya??? Justru yang menggugah hatinya adalah sherpa yang mendampinginya, tenzing. Dan setelah keberhasilannya mendaki Everest, ia beberapa kali kembali ke Himalaya -- bukan hanya untuk mendaki puncak-puncak lainnya, tetapi juga bersilaturahmi dengan kaum sherpa. Hingga suatu hari saat mereka asyik ngobrol, dan salah seorang dari grup Edmund bertanya,
"Apa yang kami bisa lakukan untuk kalian?"
Maka dari pihak sherpa menjawab,
salah satu buku panduan wajib para pendaki
"Anak-anak kami butuh sekolah"
Sejak saat itulah, Edmund mengerahkan segala daya upayanya untuk memperoleh dana dan material untuk membangun sekolah di Everest. Selama puluhan tahun, Edmund berhasil membangun belasan sekolah, rumah sakit, bandar, dan helipad, untuk meningkatkan kemakmuran serta mempermudah distribusi barang ke himalaya. siapa yang menduga, keberadaan bandara dan helipad justru menjadi gebang masuk bagi ribuan turis lainnya yang tertarik untuk melihat keindahan puncak-puncak himalaya... Tidak hanya itu, kini ada banyak anak-anak didik dari sekolah-sekolah himalaya yang berhasil dalam karir mereka -- menjadi guru, pilot, dan travel agent.

tugu peringatan edmund di Kumjung school
Membaca tulisan itu membuat hati ini diliputi rasa haru. Seandainya saja ada lebih banyak orang yang berjiwa seperti Edmund, mungkin hubungan anatar suku bangsa di dunia ini akan lebih baik dari sekarang, bukankah begitu???:) Tidak hanya di mata penduduk himalaya, Edmund juga memiliki nama yang harum di negerinya, sampai-sampai saat ia meninggal dunia pada 11 Januari 2008 karena gagal jantung, pemerintah Selandia Baru mencanangkan tanggal lahir Edmund, 20 Juli, sebagai hari libur nasional. Dan saat salah seorang sherpa kami menunjukkan kami DVD perayaan 50 tahun sekolah Kumjung yang dirayakan tahun lalu (selama 4 hari), aku melihat bagaimana sinar bahagia di mata masyarakat Himalaya yang merayakannya menyatakan terimakasih yang mendalam atas jasa Edmund...

Everest: hari 20


Beberapa kabar segera kudengar pagi ini... Sejumlah sherpa dan pendaki menjadi korban antrian di summit kemarin. Ada yang mengalami frostbite dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk diamputasi, dan ada yang meninggal. Untuk jumlah korban meninggal pun masih sumir...ada yang mengatakan 4, ada yang mengatakan 6. Yang kami tau pasti, Mr.Ha termasuk salah satu korban meninggal. Ia ditemukan dalam sebuah tenda. Perlengkapan mendakinya nampak berantakan di luar tenda, seakan dilepaskan tergesa2. Ia sudah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, diduga karena kehabisan oksigen... Sementara itu, tidak ada 1 pun tim ekspedisi China yang mencapai summit...

Tim selatan, yang hanya diwakili oleh Fajri, pun tidak berhasil mencapai summit... Rupanya semalam angin disertai salju sangat kencang di atas sana. Kekuatan angin dinyatakan mencapai 54 km/ jam. Tim selatan akhirnya harus kembali ke base IV, dan misi dinyatakan selesai. Apakah kecewa? Jangan tanyakan padaku, karena aku merasa tidak berhak untuk menjawabnya. Tanyakan kepada mereka yang sudah berjuang selama 2 tahun untuk mencapainya... Bagiku pribadi, keberhasilan tim utara paling engga sudah mewakili keberhasilan tim indonesia untuk mencapai 7 summit gunung tinggi di 7 benua. Namun, mungkin masing-masing personal memiliki pencapaian dan target pribadi. Adanya faktor-faktor yang menghalangi tercapainya target pribadi itu memang di luar kendali kita sebagai manusia -- mahluk yang terbatas...

 Meskipun Fajri dijadwalkan baru tiba ke EBC besok siang, namun ia bersikeras untuk segera turun ke EBC didampingi oleh sherpanya. Sedangkan guidenya sendiri, Hiro, dan 2 pendaki Jepang lainnya, sudah terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan turun, dan memilih untuk tiba di EBC besok.

Fajri tiba di EBC sore hari. Aku bermaksud memberikan sambutan selamat datang. Tapi saat aku melihat suasana haru di dalam tenda, aku segera mengurungkan niat. Rasanya ngga tega melihatnya...ini benar-benar momen yang membingungkan...Bahkan saat aku menuliskan ini, aku tidak tahu bagaimana cara melukiskannya dengan kata-kata. aku turut sedih untuk misi tim selatan yang gagal kali ini, turut senang karena mereka bisa kembali dengan selamat, kebingungan untuk segera mendapat gambar keberhasilan tim utara, dan tidak tau topik apa yang sebaiknya kujadikan bahan pembicaraan bersama mereka malam ini...

Salju kembali terlihat menutupi bebatuan di sekitar perkemahan kami. Makan malam kami hanya cukup untuk memanaskan perut untuk sementara waktu. Jadi sebaiknya aku segera kembali ke tendaku, sebelum jadi kesulitan memejamkan mata karena kedinginan...

 para sherpa juru masak selama di camp


 makanan favorit kami,rara noodles
 foto: lori
















Everest: hari 19

akhirnya...tim & summits sampai ke puncak
Banyak sekali hal yang terjadi hari ini, sampai ngga tau harus memulai dari mana... Tapi ada baiknya jika kita memulai dengan berita baik....:)
Rasanya ingin menangis penuh haru saat kami mendapat kabar bahwa tim utara telah berhasil sampai di puncak everest!!! Mereka dinyatakan tiba di puncak pada pukul 7.49 waktu nepal, sedangkan kami menerima berita tersebut sekitar jam 8.15. Pendaki pertama yang sampai di puncak adalah Iwan Irawan (39), dan selisih beberapa menit, Nur Huda (24). Akhirnya penantian selama 2 tahun tercapai sudah....

Saking gembiranya, kami segera menghubungi kantor untuk segera menulisnya dalam berita running text. Aku dan Anton segera berlari ke atas bukit untuk membuat berita taping tentang kesuksesan tim seven summit indonesia mencapai puncak everest.

saat mempersiapkan laporan dari EBC
Sisi baiknya, Sesuai ramalan cuaca, hari ini memang cerah sekali...hari yang tepat untuk mencapai summit. Sejak dari subuh tadi, nampaknya radio tidak henti-hentinya berbunyi untuk mengabarkan perkembangan terkini di base IV dan jalan menuju puncak. Sisi buruknya, terlalu  banyak tim ekspedisi yang memilih hari ini sebagai hari mencapai summit. Maka hingga siang hari, kami mendengar kabar bahwa masih ada ratusan pendaki berdiri kaku di tebing menuju summit, karena harus mengantri untuk sampai ke puncak everest!!!! Pernahkah kau mendengar ada antrian di gunung??? Maka ini akan menjadi yang pertama kalinya bagiku...!
aku dan Anton sehabis laporan keberhasilan tim

Kami memprediksikan hal tersebut akan semakin buruk menjelang sore....dan benar saja... Tim ekspedisi china yang meminjamkan tenda untuk tim kami di selatan tidak ada kabarnya hingga jelang sore... Seharusnya mereka sudah mencapai summit sekitar pukul 10 pagi. Lalu kami mendapat kabar bahwa salah satu anggota tim ekspedisi china hilang! Ini benar-benar buruk... Orang itu terpisah dari sherpa yang mengawalnya...dan ia hilang. Namanya Mr. Ha. Sedangkan anggota tim China lainnya dan juga sherpa ada yang mengalami frostbite. Kabar terakhir yang kami terima, ia sudah berada di base III. Dan ia sudah tidak memiliki tenaga untuk berjalan....Sayangnya, helikopter hanya sanggup menjemputnya di base II.

suasana camp saat cuaca cerah
Hal ini sudah kami perkirakan akan terjadi. Setiap tim pastinya hanya membawa tabung oksigen terbatas. Dan terjadinya antrian di jalan menuju summit tentunya di luar perkiraan. Sedangkan kebutuhan oksigen setiap orang berbeda-beda, maka dikhawatirkan akan ada pendaki-pendaki yang kehabisan oksigen jika memaksakan diri mengantri summit di hari ini. Selain bergelantungan lama, tanpa bergerak, juga dapat membuat jari-jari membeku. Itulah penyebab terjadinya frostbite.  Padahal dalam posisi bergelantungan, pendaki tidak mungkin melepaskan pegangannya dari tali. Huff..... Radio tidak berhenti berbunyi hingga kami selesai makan malam.... Bahkan hingga kami menjelang tidur jam 10 malam...padahal di luar dingin sekali. Kasian sekali sherpa yang menunggui berita di menara penghubung sana...
peralatan pengirim gambar kami di tengah salju...

Ngomong-ngomong, pendaki kami yang sakit, Ardhesir, sudah berhasil turun dari base II dan bergabung kembali bersama kami. Batuknya nampak mereda setelah turun, tetapi ia kesulitan menelan makanan. Malam ini, masih ada tim selatan yang berusaha untuk mencapai summit Everest besok pagi. Rencananya mereka sudah mulai berjalan dari base IV saat ini. Di luar sedang hujan salju...semoga mereka baik-baik saja di atas sana... Semoga besok pagi kami mendengar kabar baik...

foto by: Hari susilo, Hendrikus