"Haji memashite...", seorang gadis
kecil gipsy menyapaku dalam bahasa Jepang. Hehehehe…memangnya mukaku mirip
orang Jepang??!!! Sambil menahan geli, aku akhirnya hanya tersenyum sembari
menjawab,
"I'm not japanese...I'm indonesian"
seakan tidak menggubris jawabanku, dia lalu berkata,
"Do you like this stone? Take it, ma'am...I
give it to you..", sembari memberikanku sebuah batu berwarna. Ngga
berhenti disitu, si gadis melanjutkan,
“How about jewelry, maám? I give you only
1JD..”
 |
| tawar-menawar sewa keledai dengan bocah gipsy |
Dyuhhh….sudah
kuduga akan berujung kesana…(‘_’!)
Hari ini aku, Yudi, dan Timmy mengunjungi Petra -- salah satu kota tua
peninggalan suku Nabatean yang adalah penyembah berhala. Namun terlihat memang
ada jejak kejayaan kerajaan Romawi disana saat menaklukkan wilayah ini di era 106M
– terlihat dari beberapa arsitektur sisa bangunan yang berdiri, seperti
coliseum dan kuil pemujaan. Disebut Petra, karena kota ini dibangun di lembah
Yordania berbatu cadas dengan ketinggian mencapai 40an meter yang merupakan
peninggalan jaman purba, mungkin jaman dinasourus (dalam persepsikuJ) saat Petra dulu masih berupa lautan.
Begitu menakjubkannya Petra, hingga akhirnya sejak 7 Juli 2007 lalu Petra
terpilih sebagai bagian “7 Keajaiban Dunia” yang baru.
Turis biasanya mengambil paket 3-5 hari perjalanan untuk mengelilingi Petra dan
melihat situs-situs di dalamnya, karena seperti kukatakan tadi, Petra merupakan
kota -- sehingga ada kawasan luas perumahan, kuil dan gereja, hingga
makam-makam bangsawan. Tapi karena memperkirakan bahwa besok kami akan kembali
ke Dubai -- dan mengingat jaraknya Petra 2,5 jam dari Amman -- maka kami cukup
gila untuk menyanggupi mengelilingi kota tua itu selama 6 jam!
Kami berjalan di tengah belahan gunung batu yang sangat besar. Nyaris tidak ada
rumput-rumput yang menyelimuti gunung raksasa tersebut – jika ada pun, hanya
sembulan pohon kecil dengan ranting-ranting yang rentan patah. Dan setiap ada
ranting atau semak belukar yang kami temukan, Timmy menebaknya sebagai semak
belukar yang terbakar saat Musa menerima titah Tuhan untuk membawa Israel
keluar dari wilayah Mesir…LOL!
Ada
banyak sekali lubang-lubang di batu. Itulah rumah-rumah tempat orang Petra
tinggal berabad-abad lalu. Ya, mereka tinggal di gua-gua yang mereka lubangi
sendiri untuk dijadikan hunian. Pastinya dulu lubang-lubang itu berbentuk
simetris, tapi kita sudah tidak beraturan karena pengendapan bebatuan dan
sedimentasi dari pasir-pasir yang memenuhi celah-celah kosong tersebut setelah
tidak ditinggali selama ratusan tahun. Menurut cerita, Petra sempat disebut
sebagai kota hilang, karena keberadaannya tersembunyi dari para peneliti Barat
hingga barulah pada tahun
1812, petualang Swiss, Johann Burckhardt, berhasil memasuki kota itu dengan menyamar sebagai seorang
muslim.
 |
| berpose di pilar-pilar sisa peninggalan kerajaan Romawi |
Di
Petra, ada banyak makam bangsawan yang bahkan ukurannya lebih besar daripada
rumah masyarakat umum – kemungkinan karena sekaligus digunakan sebagai tempat
penyimpanan harta. Beberapa bangunan merupakan perpaduan antara budaya Mesir,
Nabatean (yang merupakan warga setempat), dan Roma (yang menjadi penjajah di
era itu). Di depan setiap situs selalu ada orang-orang gypsi – dewasa maupun
anak-anak – yang menjajakan postcard, perhiasan, bahkan menyewakan kuda dan
keledai mereka untuk ditunggangi mengelilingi situs-situs disana. Tentunya itu
semua tidak gratis -- bahkan disewakan dengan harga yang cukup tinggi. Itu
sebabnya gadis kecil gipsy yang menyapaku harus dapat ditolak secara halus
sebelum dia menghabiskan dinar yang kubawa hanya untuk perhiasan dan transportasi
:3
kami mengunjungi banyak sekali bangunan-bangunan peninggalan...ada yang nampak utuh, ada yang sudah hancur sebagian. Kami singgah di Al Khazneh ("The Treasury") yang menjadi bangunan pertama yang ditemukan setelah melewati dinding batu yang super tinggi, bekas gereja dengan lantai berhiaskan mozaik ala Byzantine, Theatre, dan entah bangunan apa lagi.. Entah karena baru kali ini melihat peradaban kuno dunia lain, aku sangat kagum dengan kegigihan para pemahat di bukit batu ini....membuat bertanya-tanya bagaimana cara mereka melakukannya...seperti membuat lingkaran tiang yang halus misalnya??!!
 |
| kami mencapai monastery:) |
Salah satu tempat yang sulit dicapai – tetapi wajib kunjung selama di Petra --
adalah monastery/ biara (El Deir ). Letaknya di gunung batu di daerah yg disebut Ad-Deir.
Di puncak itu terdapat suatu bangunan megah yang diperkirakan sebagai gereja
pada jaman Byzantine. Untuk mencapainya, kau harus menaiki ratusan anak tangga.
Jika kau mendengar bahwa mencapai monastery perlu menaiki 100 anak tangga, it's truly a lie… Setidaknya ada sekitar
800an anak tangga yang harus kamu lewati -- belum lagi beberapa jalan datar
yang menambah langkah-langkahmu menjadi berjumlah ribuan. Aku berani bertaruh
-- jika benar-benar berjalan dari gerbang masuk Petra -- nyaris tidak ada orang
Indonesia yang sanggup mencapai monastery! Tantangan pertama adalah banyaknya
kotoran keledai dan kuda di sepanjang jalan yang dilalui – membuat sebagian
orang biasa langsung il-feel dan menyayangkan apabila sepatunya yang mahal
harus dikotori dengan ‘that kind of
stuff’. Kedua, tingginya tempat monastery berdiri yang membuat oksigen
semakin tipis dan ratusan tangga itu membuat kamu kehabisan napas -- bahkan aku
sempat menyuruh Yudi dan Timmy meninggalkanku di tengah perjalanan karena aku
merasa akan semaput. Dalam hati aku ngedumel sendiri, “Mengapa di Indonesia kita tidak memiliki budaya berjalan kaki!!
Terlalu banyak orang nyaman dengan berkendaraan pribadi kemanapun mereka ingin
pergi (sayang sekali, aku termasuk dalam golongan itu..). Bahkan ada lelucon
yang berbunyi,"kalau angkot itu bisa mengantar sampai depan rumahnya,
itulah yang dipilih oleh orang Indonesia". Dapat dibandingkan dengan
orang-orang barat. Meskipun mereka menggunakan high-heels, berjas, berdasi,
namun tetap membudayakan menggunakan transportasi umum dan menyambung dengan
berjalan kaki dari halte terdekat ke tempat tujuan mereka. Makanya, cukup
mengejutkan juga pada mulanya saat mendaki tangga-tangga monastery kami banyak
berjumpa dengan kakek-nenek berkebangsaan eropa yang tetap antusias mendaki--
meskipun mereka tertatih-tatih. Tentu saja, semangat mereka sangat menyidir
diriku yang masih muda dan sudah hampir menyerah untuk dalam pendakian
tersebut.(dan sudah berwajah pucat, dengan keringat tertahan dalam mantel)
Kembali pada diriku yang ngos-ngosan mendaki gunung batu itu (dan sudah
tertinggal jauh di belakang Timmy dan Yudi), aku sempat putus asa dan memilih
untuk berhenti. Sambil membasahi kerongkonganku yang kering dengan beberapa
teguk air, kulihat ada seorang pria berukuran jumbo yang napasnya juga
tersengal-sengal dan Nampak tertinggal dari rombongan…(pak…kita senasib…(T_T)
). Aku berpikir apakah sebaiknya aku menunggu Yudi dan Timmy saja untuk turun
kembali ke situs di bawah, sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita turis
asing. Aku tidak bertanya darimana asalnya. Rambutnya merah ikal dan nampaknya
berusia sekitar 50an. Dia dalam perjalanan turun dari monastery.
“Is it still far to go
up there?”, tanyaku padanya dengan wajah memelas
“No..”,
katanya dengan wajah cerah,”Ït’s only at
the back of that stone and you just straight…there it is”
“Ï almost lost my
breathe”, kataku berkeluh kesah
Dia
menyemangatiku,”You know what…I have asthma.
But I don’t feel it. I just take a deep breath…deep breath. And what you see
there, it’s worthied”
Aku
tertegun. What???! Aku ngga akan
kalah dengan orang yang asma untuk mencapai monastery itu;8 . Akhirnya aku
mendaki dan mendaki…dan akhirnya, tidak sampai 10 menit, aku mencapai
monastery…yippeeee -- meskipun kata Timmy dan Yudi wajahku sudah pucat pasi.
Sesampai
di atas, aku ngga lupa mengambil foto dengan pose seperti patung liberty di
depan monastery. Ini benar-benar pengalaman ngga terlupakan! Lalu kami
istirahat sejenak dan memesan teh botol. Harganya 3 dinar = Rp 36ribu!!! Kalau
ngga karena kecapean, aku ngga akan memesannya (T_T). Teh botol mahal itu
diminum dengan kepuasan yang ngga terkatakan – kamu seperti baru memenangkan
olimpiade!!
Untuk
mendaki ke monastery kami menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam! (mungkin
karena aku beberapa kali berhenti untuk mengambil napas). Tapi untuk turun dari
sana, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Dan
yang menarik adalah dalam perjalanan turun yang terasa ringan itu, aku kembali
bertemu dengan si wanita berambut merah
“Hey..”, dia
menyapaku terlebih dahulu,”you did it!!!”
Ÿaa…I did it…”,
kataku senang.
“Ÿou see…”
Yuppp…I see…Pengalaman ini memang memberiku
pelajaran pribadi. Terkadang seringkali aku menyerah untuk sesuatu yang sangat
berharga – bahkan membuat keputusan-keputusan yang salah. Padahal untuk
memperoleh hasil yang aku inginkan, aku hanya perlu berjalan sedikit lebih
jauh….ya, sedikit lebih jauh….^^