Monday, February 3, 2014

360: DI BATAS MERAH PUTIH (2nd DAY)



Hari ini bangun subuh. Maklum…bulan puasa. Meskipun ngga ikutan puasa, paling engga harus sahur bareng rombongan.

Pagi ini kami berangkat dari Sintang. Kab. Sintang – Senaning itu sekitar 233km. kayaknya ngga jauh-jauh amat kan, ya….paling-paling Cuma 5 jam. Ternyata…salah besar! Karena cuma sedikit jalanan beraspal. Kenyataannya,  sebagian besar adalah jalan tanah merah yang ngga rata. (aku berusaha mengingat kapan terakhir kali melihat tanah merah seperti itu…mungkin di Baktaphur, Nepal..:( ). Klo musim kemarau, jalanan ini bakal berdebu dan menghalangi jarak pandang. Sebaliknya, kalau musim hujan, bakal bikin mobil2 ‘skating’ dan banyak yang terperosok di lubang-lubang (dan harus tabah sampai menunggu bala bantuan lainnya datang)

Aku Cuma bisa geleng-geleng kepala. Aneh banget menurutku, karena jalanan itu digolongkan sebagai “jalur strategis nasional”, karena menjadi jalur yang dilalui untuk menghubungkan 2 negara. Tapi jalur strategis kok ngga beraspal??? Jangankan berstatus “jalur strategis”, tepatnya ini “tragis”. Kami convoy 5-6 mobil ranger. Beberapa kali mobil terjebak di lubang dan harus ditarik oleh mobil lainnya untuk keluar.(kebayang ngga klo mobilnya ngga convoy…)

Aku berusaha tabah menghadapi jalan yang ‘begajulan’. Untungnya sudah minum antimo J. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang ada di kanan-kiri cuma rumah-rumah penduduk, ilalang, hutan, dan sesekali ada lewat perkebunan kelapa sawit. 

Wow…aku sampai takjub dengan begitu luasnya kebun kelapa sawit di daerah ini. Kata dinas PU setempat, saking mereka ngga punya duit untuk membangun jalan ke perbatasan, mereka buat semacam deal dengan perusahaan sawit untuk pemeliharaan jalan. Kesepakatannya kira-kira gini: setoran ke daerah dikurangi sekian persen, sebagai gantinya jalanan dekat kebun sawit bakal dipelihara perusahaan….menyedihkan.
bagaimana menurutmu warna airnya? mirip teh, kan...

Rumah penduduk rata-rata terbuat dari kayu. Dan karena sempat berhenti beberapa kali, aku baru tau kalau penduduk rata-rata ngga punya toilet. Mereka mandi di sungai atau genangan air rawa. Jadi disitulah semuanya (can you imagine?? Saat itu kita sudah 68 tahun merdeka…). Ada juga yang punya toilet luar,  yang untuk dipakai beberapa rumah (yang mungkin adalah keluarga)

Mengharapkan melihat air jernih disini sangat sulit. Karena jenis hutan yang ada di daerah ini adalah hutan gambut. Maka yang muncul adalah air rawa dan sungai di pedalaman yang warnanya coklat bening, penampakannya seperti air teh. Katanya, itu adalah air dari hutan gambut.

Kejutannya belum selesai. Tim kami berangkat dari Kab. Sintang pukul 08.00 dan tiba di kec. Ketungau Hulu pkl. 17.30. jadi perjalanannya kurang lebih 10 jam. Kami disambut oleh warga yang baik hati. Aku hanya terpikir 3 hal: mandi, makan, dan istirahat.

andai kau tau bagaimana perjuangan mencapai tugu ini :(
Saat masuk ke penginapan, aku menyadari bahwa penginapan kami terbuat dari kayu dan papan (membuat sangat memungkinkan untuk menguping pembicaraan tetangga sebelah kamar). Tidak ada listrik, sehingga pakai jenset yang dinyalakan dari pukul 18.00 sampai 05.30. selain itu, listrik tidak ada…(untuk penghematan). 

Oh, yeahh..kenapa harus terkejut. Harusnya aku cukup rasional untuk memperkirakannya sedari awal. Kalau aspalnya aja ngga dibuat puluhan tahun, gimana PLN juga bisa membangun sampai kesini??!!! Fiuhhh….

No comments:

Post a Comment