Monday, February 3, 2014

360: DI BATAS MERAH PUTIH (3rd DAY)





Bangun pagi, badan pegel-pegel. Harap maklum, kemarin baru dikocok-kocok di mobil. Sebelum anggota tim lain keburu bangun, cepetan ngacir ke kamar mandi (tips buat yang pergi dalam rombongan dengan fasilitas seadanya)

Di kecamatan Senaning warganya tidak banyak. Mungkin hanya sekitar 1500an jiwa. Disini ada belasan sekolah SD. Ada sekitar 7 SMP, lalu 1 SMA. Rata-rata warga yang berumur di atas 30 tahun adalah lulusan SD. Tapi anak mudanya sekarang  banyak yg lulusan SMP. Cuma sedikit yg SMA (ngga heran sekolahnya Cuma satu)

salah satu warga yang mengantar kami berkeliling....yang menarik perhatianku adalah...kaosnya;)
Menurut warga setempat, sebagian dari mereka  memilih SMA di kota, ada juga yang akhirnya pilih berkerja. Soalnya kalau mau sekolah ke kota juga mahal (kalau mau pulang-pergi, ya). Sekali sewa mobil untuk ke kota butuh Rp 350,000. Padahal penghasilan warga rata-rata per bulan sekitar Rp 2 jt – 3 jt. Itu pun sudah banyak terpakai untuk beli bensin/ solar/ minyak tanah yang harganya berkisar Rp 10,000 – 12,000/ liter. Jadi, yang sekolah ke kota akan menginap di rumah saudara disana, sedangkan yang kurang beruntung akan memilih bekerja sebagai buruh di kecamatan ataupun ke Malaysia.

Dan…perjalanan pun kami lanjutkan. Dari kecamatan, butuh 3-3,5 jam perjalanan mobil untuk sampai ke Sungai Kelik. Status jalanan: hancur, seperti sebelumnya. Di tengah perjalanan, kami  sempat mampir ke kantor kecamatan (yang didirikan dengan dana kementrian dalam negeri) plus rumah-rumah pegawai  dan pasar (yang didirikan dengan dana kementrian perdagangan). Bangunan-bangunan itu didirikan tahun 2011, tapi ngga ada yang menghuni sampe sekarang. Cuma ditinggali hantu doank. Kenapa? Saat kami tanyakan, jawabannya kira-kira gini,”Karena ngga ada aliran listrik dan airnya. Jadi siapa juga yang mau tinggal disana?? “. 

Ok…perjalanan dilanjutkan. Kali ini agak ribet memang. Kami sampai Sungai Kelik, nyebrang sedikit, trus melintas hutan dan mendaki bukit untuk sampai ke pos penjagaan TNI. Dalam perjalanan, 2 ibu-ibu PNS dari kabupaten menyerah dan memilih balik kanan. Perjalanannya memang cukup berat. Aku Cuma berharap ngga sampai pingsan di jalan (>.<)

warga yang berpapasan dengan kami saat akan nyebrang sungai
Ada hal yang menarik perhatian saya sepanjang berjalan kaki. Hutan yang kami lalui ada yang porak poranda, karena sisa illegal logging di tahun 1980an maupun karena ladang berpindah yang dibuat oleh warga. Alur yang dilalui dari sungai Kelik – pos TNI adalah alur yang dibuat TNI (jadi sebelumnya sudah sempat tertutup semak belukar)

Menurut TNI yang bersama kami ke perbatasan, sekarang sudah nyaris tidak ada illegal logging (khusus wilayah yang kami kunjungi lho…klo di desa-desa tetangga, ngga ada jaminan). Tapi jalur illegal logging yang ada dari tahun 1980an, yang dibuat oleh orang-orang Malaysia, masih bisa dilihat jejaknya hingga sekarang. Pencegahan apa yang dilakukan, sampai-sampai illegal logging di wilayah itu dapat menurun drastic? Ternyata jawabannya simple: karena pohon-pohon batang besarnya udah nyaris habis, yang tersisa tinggal yang pohon muda dengan batang yang slim….

No comments:

Post a Comment