Monday, February 3, 2014

360: DI BATAS MERAH PUTIH (4th DAY)




aku ngga cukup perkasa untuk melakukan seperti yang dilakukan wanita dayak ini



Kamu harus cukup sigap jika berbagi kamar mandi dengan 30 orang. Jadi saat terbangun di pagi hari dan melihat antrian untuk menggunakan 3 kamar mandi di pos TNI, aku memilih untuk menunggu dengan sabar sambil mereview perjalanan kemarin di otakku.
mungkin gengsi adalah salah satu yang mempertahankan aku ngga pingsan saat mendaki Xoxo

Perjalanan menuju pos TNI kemarin memakan waktu 2 jam untuk mendaki. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit menuju bukit perbatasan Indonesia – Malaysia (sulit kupercaya…siapa orang Inggris dan Belanda yang sempat ke bukit ini dulu untuk membagi wilayah..?!) 

warga berjalan kaki ke pasar Lacau
Lupakan soal patok-patok perbatasannya....ada yang lebih menarik perhatianku. Di salah satu bagian bukit, ada jalan setapak berbentuk pertigaan. Katanya kalau disusuri, bakal sampai ke pasar Lacau. Itu adalah pasar Malaysia yang sering dikunjungi warga desa sungai kelik (dan warga-warga desa lainnya di perbatasan Kec. Ketungau Hulu). Mereka beli makanan-minuman, pakaian, dll disitu. Hasil panen warga juga rata-rata dijual disana. Agak jauh dari pasar Lacau, ada rumah sakit….ada rumah sakit!! Bukan puskesmas atau balai kesehatan.  Dan lagi-lagi, warga pastinya lebih suka bawa anaknya berobat kesana ketimbang menempuh perjalanan 10 jam ke kab. Sintang.

lucu ya...kalau di kampung ada petunjuk jalan seperti ini:)
Jika mau lihat pemandangan ekstrim, maka semuanya menjadi jelas dari atas bukit. Keliatan banget negara bagian perbatasan Malaysia itu rapih. Ada jalanan, tiang listrik, tower sinyal, kebun kelapa sawit yang rapi. Bahkan di hp kita sinyal yang muncul adalah sinyal maxis. Warga disini juga  udah biasa punya 2 mata uang: ringgit dan malaysia. Waktu pulang, kami mampir di warung. Ibunya masak pakai gas dengan merk malaysia. Anaknya nonton siaran TV3. Di rumah lain, ada keluarga yang mengaku sebagian anaknya kerja di Malaysia, dan salah satu anaknya yang cacat pun diobati di Malaysia. Tepatnya mereka lebih mirip warga Malaysia daripada Indonesia…makes me wondering what has been given by this country to its’ citizens?

even gula....! asalnya dari Malaysia
Perjalanan kami akhirnya berakhir…saatnya pulang. Dan apa yang kuhadapi di perjalanan pulang lebih parah daripada saat datang. Setelah menuruni bukit dan menyeberangi sungai, hujan datang. Mobil-mobil kami pun sliding ngga karu-karuan. Entah ada berapa ratus jembatan kayu rusak yang kami lewati -- mungkin hanya ada 2-3 jembatan besi.  Aku beberapa kali tertidur dan terbangun lagi. Dalam hati aku berdoa semoga segera sampai di hotel dan mandi air panas, tapi perjalanan seakan tidak berakhir. 

Dini hari, aku merasakan mobil kami berhenti. Ku buka mataku….hotel. Yeayyy…akhirnya tiba di Sintang!! Dengan semangat kuturunkan koperku, dan tanpa basa-basi segera masuk kamar, lalu mandi.

Lega rasanya saat badan terasa bersih dari debu dan siap untuk tidur. Namun sebelum mata benar-benar terpejam, sempat terpikir olehku,”Adakah para caleg menyempatkan diri berkampanye dan memahami apa yang mereka butuhkan?”. Aku meragukannya….

No comments:

Post a Comment