Tuesday, June 12, 2012

Everest: hari 14

Aku bukanlah pecinta anak-anak kecil. Namun anak-anak dari pegunungan himalaya sangat mencuri perhatianku. Menurutku, mereka manis sekali, dengan mata yang sipit dan pipi yang memerah. Biasanya anak-anak perempuan rambutnya diikat kepang dua, sedangkan yang anak-anak cowo berambut pendek lurus. Sangat menyenangkan jika melihat mereka tertawa lepas... Beberapa anak kecil yang kami temui sangat fasih untuk bergaya, dengan merapatkan kedua tangan mereka membentuk sikap hormat sambil mengucapkan sapa, "namaste..."

anak-anak di himalaya pergi sekolah dengan berjalan kaki ber jam-jam
 Tidak banyak penduduk himalaya yang berpendidikan tinggi. Jumlah sekolah pun tidak banyak -- hanya beberapa, di Namche, Kumjung, dan entah dimana lagi. Jika anak-anak himalaya jalan pergi ke sekolah, mereka harus berjalan berkilo-kilo meter. Mungkin membutuhkan waktu 2-3 jam untuk sampai ke sekolah (entah mereka masih memiliki konsentrasi atau tidak untuk belajar setelahnya). Tidak jarang, bagi mereka yang merasa sekolah terlalu jauh dari tempat tinggal mereka (mengingat sekolah tidak selalu ada di setiap desa), mereka akan pindah dan tinggal di rumah saudara mereka yang terdekat dengan lokasi sekolah. Jangan kau bayangkan kata "dekat" dengan takaran jarak yang biasa kita pakai. Bagi penduduk himalaya ini, jarak 1-3 jam sudah terhitung dekat.

Karena banyak anak-anak pindah untuk tinggal di lokasi dekat sekolah, di desa-desa yang tidak ada sekolah sangat jarang terlihat anak-anak kecil. Kalau pun ada, kemungkinan masih berusia balita.

 Suatu hari dalam perjalanan kami, kami bertemu dengan sejumlah anak-anak yang baru pulang sekolah. Saat kami mulai mengajak mereka ngobrol, awalnya mereka malu-malu. Tapi saat kami mulai membagikan coklat, mereka mau diajak bicara. Dan karena mereka masih terlalu kecil untuk memahami bahasa inggris, kami berkomunikasi denganbahasa tubuh. Tentu saja, guide kami harus membantu menerjemahkan maksud kami pada anak-anak itu dalam bahasa nepal. Dan bocil-bocil itu hanya tertawa melihat tingkah kami sambil terus menggenggam coklat yang kami bagikan.


 Kami meminta mereka menyanyikan lagu kebangsaan Nepal. Tentu saja, sogokan coklat harus ditambah.... dan meskipun mereka menyanyikannya secara serampangan, lagu ...tetap terdengar merdu bagi kami.

bocah-bocah mengucapkan sambutan hangat "namaste.."
 Nepal adalah negara yang baru beranjak menjadi negara demokrasi pada tahun 2002. Sistem kerajaan yang telah berlaku selama ratusan tahun akhirnya direformasi menjadi sistem parlemen di bawah pimpinan perdana menteri. Nepal pun mengalami masa transisi demokrasi yang sulit. Sejak negara itu berubah hingga detik aku menulis kisah ini, konstitusi mereka belum dibuat. Itu artinya negara mereka berjalan tanpa konstitusi. Lalu bagaimana mungkin para pemimpin itu terpikirkan untuk memperbaiki pendidikan anak-anak di pegunungan himalaya ini???? Mereka hanya sanggup mewariskan bendera dan lagu kebangsaan yang dinyanyikan bocil-bocil ini dengan bangga... Aku harap suatu hari nanti salah satu anak dari himalaya akan duduk di pemerintahan dan menjadi pelopor pengembangan kawasan himalaya untuk memperbaiki kesejahteraan warganya....semoga saja....

namaste = hai/ halo...

foto by: Hari Susilo, Lori Singer

No comments:

Post a Comment